Senin, 06 Juni 2011

KONSEP dan DEFINISI

~~~~~~~
Oleh : Agus Maniyeni
~~~~~~~


ilustrasi : Theny
Para sahabat yang budiman, jika semalam saya posting tentang Rasionalitas kesesatan, sekarang ini saya posting tentang Konsep dan definisI, dua hal yang sangat mendasar dalam berlogika. Kedua istilah ini paling banyak kita temukan dalam komunikasi sehari-hari.  
Walaupun demikian dalam konteks ilmu pengetahuan khususnya Logika kedua hal ini memiliki makna yang agak spesifik. Pemahaman kita akan kedua unsur dasar ini sangat penting bagi kita untuk belajar mengembangkan kemampuan bernalar yang lebih sehat menggunakan kaidah-kaidah logika formal yang ada. Di samping itu, konsep dan definisi, menjadi unsur metodologis yang sangat penting jika kita melakukan aktifitas penelitian ilmiah.

Pengertian Konsep

Istilah konsep berasal dari bahasa latin dari kata “conceptus” yang berarti “tangkapan”. Tangkapan dalam konteks logika berkaitan dengan aktivitas intelektual untuk menangkap realitas. Aktivitas untuk menangkap realitas ini disebut aprehensi. Meskipun demikian sebuah aktivitas aprehensi tidak bersifat “an sich” tetapi “reflektif, kritis”. Dalam bahasa Inggris kata konsep berasal dari kata “concept” atau “construc” yang berarti simbol yang digunakan untuk memaknai sesuatu (Ihalaw, 2003 : 25). Dari berbagai pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan konsep adalah, aktivitas akal budi untuk memaknai realitas dengan menggunakan simbol tertentu.

Selain konsep, dikenal juga istilah term sebagai padanan dari konsep. Meskipun keduanya tidak dapat dipisahkan, melainkan dapat dibedakan. Jika konsep lebih menjurus kepada aktivitas akal budi, maka term lebih berorientasi kepada “hasil” kegiatan akal budi yang dinyatakan dalam satu atau lebih kata. Dengan demikian, term dapat didefinisikan sebagai kata atau rangkaian kata yang membuat konsep menjadi nyata dan mengandung pengertian tertentu.

Definisi ini menunjukkan bahwa term sebuah konsep berbeda dari kata, sebab sebuah term dapat lebih dari satu kata. Jika sebuah term hanya terdiri dari satu kata atau satu istilah, maka term tersebut dinamakan term sederhana (simple term). Misalnya: Manusia, Gajah,  
Cantik dan sejenisnya. Jika sebuah term terdiri dari beberapa kata, maka term tersebut dinamakan term kompleks (term komposit). Misalnya: Efek rumah kaca, Garuda Pacasila, Bapa segala orang percaya, generasi muda gereja, teologia trasformasi dan sejenisnya. Dari coNtoh-contoh ini, dapat dikatakan bahwa meskipun term komposit terdiri dari beberapa kata yang berdiri sendiri tetapi jika digabungkan hanya menunjukkan satu konsep atau satu pengertian. 

Kata atau istilah yang digunakan untuk mengungkapkan sebuah pengertian disebut juga sebagai simbol konsep. Dengan demikian, dapat dikatakan pula bahwa term adalah simbol atau kesatuan beberapa simbol digunakan untuk membentuk suatu konsep.

Konotasi dan Denotasi Term

Konotasi adalah, keseluruhan isi yang dimaksudkan atau yang dikandung oleh sebuah term atau konsep. Yang dimaksud dengan keseluruhan arti adalah, kesatuan unsur-unsur dasar (substansi) dengan sifat pembeda yang secara bersama-sama membentuk suatu pengertian.

Misalnya:konotasi term “manusia” adalah: makluk berakal budi. Jika diuraikan maka term ini meliputi substansi yang berbadan, (unsur dasar) dan berakal budi (sifat pembeda).konotasi term “hukum” adalah: peraturan sebagai substansi (unsur dasar) dan yang bersifat memaksa (sifat pembeda). Dari contoh tersebut dapat dikatakan bahwa, konotasi berkaitan dengan definisi atau pembatasan suatu konsep. Definisi yang berkaitan dengan konotasi sebuah term disebut sebagai definisi konotatif, atau definisi metafisik. (menyangkut hakikat definisi ini dibahas Pada bagian tersendiri).

Setiap term selain memiliki konotasi juga memiliki denotasi. Denotasi sebuah term adalah keseluruhan hal yang diliputi oleh sebuah term. Dengan kata lain denotasi sebuah term berhubungan dengan lingkungan (ekstensi) yang dapat ditunjukan sebuah term. Misalnya:Denotasi term “manusia” yang didefinisikan sebagai makluk berakal budi; dapat diterapkan pada bangsa, Indonesia, bangsa Cina, bangsa Yahudi dan sebagainya.Denotasi term “hukum” yang didefinisikan sebagai peraturan yang bersifat memaksa dapat diterapkan pada hukum pidana, hukum perdata, hukum laut internasional, hukum tata negara.

Jika dikaji secara mendalam maka antara konotasi dan denotasi sebuah konsep terdapat korelasi negatif, artinya jika yang satu bertambah, maka yang lainnya berkurang demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini terdapat empat kemungkinan:
Makin bertambah konotasi, makin berkurang denotasi
Makin berkurang konotasi, makin bertambah denotasi
Makin bertambah denotasi, makin berkurang konotasi
Makin berkurang denotasi, makin bertambah konotasi

Misalnya:
term “manusia”. Dari term ini menunjukan bahwa denotasinya meliputi semua bangsa didunia. Tetapi jika term tersebut diubah menjadi “manusia Indonesia” maka denotasinya hanya meliputi masyarakat Indonesia.

Pembagian Konsep

Secara umum konsep dibagi ke dalam beberapa jenis yakni:  
(1) konsep menurut konotasi; (2) konsep menurut denotasi; (3) konsep menurut cara menerangkan sesuatu (predikabel)

Konsep menurut konotasi

Menurut konotasinya, konsep dapat dibedakan atas dua jenis yaitu: konsep konkrit dan konsep abstrak. Konsep konkrit adalah konsep yang konotasinya langsung mengacu pada realitas obyektif. Misalnya: Wanita cantik. Konsep yang terkandung dalam term wanita cantik adalah konkrit, karena langsung menunjuk pada realitas sebagai subyek yang mempunyai diri.

Konsep abstrak adalah konsep konotasinya hanya menunjukkan sifat tertentu, tanpa menunjuk pada realitas obyektif. Misalnya: kecantikan, kenegaraan, kemakmuran.

Konsep menurut Denotasi
Menurut denotasinya, konsep dapat dibedakan atas dua jenis yaitu: konsep umum dan konsep khusus. Konsep umum adalah konsep yang denotasinya mencakup keseluruhan hal yang diliputinya. Konsep ini dibedakan atas dua macam yakni:

Universal: konsep umum yang denotasinya tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Misalnya: Manusia, bangsa, Mahasiswa.

Kolektif: konsep umum yang denotasinya hanya berlaku bagi kelompok tertentu sebagai satu kesatuan. Misalnya: Rakyat Indonesia, Mahasiswa UKAW Kupang, jemaat Imanuel Mnela Lete.

Konsep khusus adalah, konsep yang hanya meliputi sebagian dari keseluruhan. Konsep ini dibedakan atas konsep partikular dan konsep singular.

Partikular: konsep khusus yang denotasinya hanya menunjuk pada sebagian tidak tertentu dari suatu keseluruhan. Misalnya: Sebagian manusia, sebagian Mahasiswa.

Singular: konsep khusus yang denotasinya menunjuk pada suatu hal atau suatu himpunan yang mempunyai hanya satu anggota. Misalnya: Presiden pertama RI, Dosen Hermeneutik Teologi UKAW.

Konsep menurut predikabel

Predikabel yang dimaksud adalah cara menerangkan sesuatu. Cara menerangkan ini berkaitan dengan pengungkapan relasi yang berbentuk predikat sebagai penjelasan dari suatu subyek dalam bentuk pernyataan.

Predikabel dari konsep terndiri dari lima jenis. Dua diantaranya menerangkan tentang hakikat jenis dan golongan sesuatu yakni: genus (jenis) dan spesies golongan); tiga diantaranya menerangkan tentang sifat yakni: diferensia (sifat pembeda), proprium (sifat khusus), dan aksidensia (sifat kebetulan).

(1). Genus adalah konsep membawahi spesies. Biasanya ekstensi genus meliputi semua jenis dan golongan konsep yang berada di bawahnya.

(2). Spesies adalah konsep yang lebih rendah dari genus. Bila ekstensi genus meliputi semua jenis dan golongan konsep yang berada di bawahnya, maka ekstensi spesies hanya mengacu pada hakikat “sesuatu ada” yang fana. Misalnya: manusia, hewan, tumbuhan.

(3). Diferensia adalah ciri pembeda sebuah konsep yang memebedakan satu spesies dengan spesies lainnya. Misalnya: Berakal adalah sifat pembeda manusia; panas sifat pembeda api; H20 sifat pembeda air. Dalam konteks logika, diferensia biasanya bertujuan untuk menuntaskan sebuah definisi yaitu menentukan tapal batas sebuah konsep. Bila ekstensi genus meliputi semua jenis dan golongan konsep yang berada di bawahnya, maka ekstensi spesies hanya mengacu pada hakikat “sesuatu ada” yang fana. Misalnya: manusia, hewan, tumbuhan.

Diferensia dapat dibedakan atas dua kategori yakni: diferensia generik dan diferensia spesifika. Diferensia generik adalah konsep yang menjadikan genus yang lebih tinggi menjadi lebih rendah. Misalnya: Organisma “berperasa”; Allah yang Imanuel.

Diferensia spesifika adalah konsep yang menjadikan genus terdekat menjadi spesies. Misalnya: hewan menyalak, hewan berkaki dua, hewan melata.

(4). Proprium sifat khusus yang merupakan lanjutan dari sifat pembeda sebuah konsep jika diabaikan dapat menimbulkan kerancuan. Misalnya: manusia sebagai makluk berakal budi, dapat belajar dapat berpolitik, bernyanyi.

Proprium dapat dibedakan atas dua kategori yaitu: proprium generik dan proprium spesifik. Proprium generik adalah sifat khusus sebuah konsep yang berakar dalam genus. Misalnya: sifat “dapat mati” yang dihubungkan dengan manusia. Sifat khusus ini langsung berhubungan dengan pengertian manusia sebagi makluk hidup. Dengan demikian, orang dapat mati bukan karena ia berakal budi, berindra melainkan karena ia “organisme yang hidup”
Proprium spesifik adalah sifat khusus sebuah konsep yang berakar dalam spesies. Misalnya: semua manusia dapat tertawa, dapat membuat keputusan, dapat belajar, dapat merubah lingkungan.

(5). Aksidens adalah sifat kebetulan sebagai predikat yang tidak berkaitan dengan hakikat sesuatu sehingga tidak dimiliki oleh seluruh golongan. Misalnya: “berambut ikal” dan “berkulit putih” untuk manusia, Cantik untuk seorang gadis, berwarna merah untuk sepeda motor dan sebangsanya.

Aksidens dapat dibedakan atas dua jenis yakni, aksidens predikamental dan akseidens predikabel. Akseidens predikamental adalah sifat kebetulan yang menyertai cara berada sesuatu dan melekat pada subyek. Misalnya: sifat terpelajar, pendidik, tinggi-besar untuk mansia. Panas, dingin untuk udara. Aksidens predikabel adalah sifat kebetulan yang menyertai cara menyatakan sesuatu namun tidak mutlak. Misalnya: berambut ikal untuk manusia, persegi untuk bangunan.

Definisi

Istilah definisi berasal dari bahasa Latin dari kata “definire” yang berarti menandai batas pada sesuatu, menentukan batas, atau batasan arti. Dalam konteks ini definisi dapat diartikan sebagai pernyataan yang berisi penjelasan tentang arti suatu konsep.

Tujuan definisi
Tujuan dibuatnya definisi terhadap suatu konsep dimaksudkan untuk: Memperkaya kosa kata. Definisi dibuat menambah wawasan berupa penguasaan kosa kata. Menghilangkan kerancuan. Kerencuan timbul karena sebuah konsep diberi makna lebih dari satu. Mengurangi kekaburan. Kekaburan suatu konsep terjadi apabila konsep tersebut tidak memiliki batasan yang jelas, sehingga dibutuhkan definisi untuk mengurangi kekaburan dimaksud.Menjelaskan secara teoritik. Tujuan lain dari definisi adalah merumuskan karakteristik sebuah konsep yang secara teoritik atau yang secara ilmiah dapat berguna untuk diterapkan pada suatu obyek tertentu. Mempengaruhi sikap. Definisi juga dapat dibuat dengan maksud mempengaruhi minat orang lain terhadap konsep yang didefinisikan.

Jenis-jenis definisi secara garis besar definisi dapat dibedakan atas tiga jenis yakni: (1) definisi nominalis. (2) definisi realis dan (3) definisi praktis.

1. Definisi nominalis
Definisi nominalis adalah definisi yang dibuat untuk menjelaskan sebuah konsep dengan kata lain yang lebih umum. Jadi definisi ini hanya dimaksudkan untuk menjelaskan kata sebagai tanda bukan hal yang ditandakan. Misalnya: Nirwana adalah Sorga.

Definisi nominalis biasanya digunakan dalam pada permulaan suatu pembicaraan atau diskusi. Definisi ini dapat dirinci menjadi lima jenis yakni: definisi sinonim, definisi simbolis, definisi etimologis, definisi stipulatif, definisi denotatif.

a. definisi sinonim
Definisi sinonim adalah penjelasan sebuah konsep berdasarkan persamaan kata. Definisi ini biasanya paling singkat dan yang digunakan dalam kamus-kamus. Misalnya: Dampak adalah pengaruh yang membawa akibat Arca adalah patung batu Kendala adalah halangan 

b. definisi simbolis atau semantik
Definisi simbolis adalah penjelasan sebuah konsep menggunakan tanda atau simbol tertentu. Definisi ini biasanya paling banyak digunakan dalam matematika. 

c. definisi etimologis
Definisi etimologis adalah penjelasan sebuah konsep berdasarkan asal-usul sebuah kata. Misalnya: Demokrasi berasal dari demos= rakyat dan Kratein = pemerintahan atau kekuasaan: Jadi demokrasi adalah sistem pemerintahan dimana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat.
Metode berasal dari metha = di atas dan hodos = Jalan.  
Jadi metode adalah jalan yang harus dilewati

d. definisi stipulatif
Definisi stipulatif adalah penjelasan sebuah konsep dengan cara memberikan nama terhadap sesuatu atas dasar kesepakatan bersama. Definisi ini benyak digunakan dalam ilmu pengetahuan terutama berhubungan dengan penemuan baru.

Misalnya:Planet tertentu diberi nama “mars”

e. definisi denotatif
Definisi denotatif adalah penjelasan sebuah konsep dengan cara menunjukkan atau memberikan contoh suatu benda atau hal yang termasuk dalam cakupan konsep. Definisi ini dibedakan atas dua jenis yakni: definisi Ostentif dan definisi enumeratif. Definisi ostentif adalah: penjelasan sebuah konsep dengan cara menunjuk langsung kepada simbol yang dikandung oleh konsep dimaksud.
Misalnya: Mendefinisikan apakah batu itu dengan menunjuk langsung pada obyek batu.

Definisi enumeratif adalah: penjelasan sebuah konsep dengan cara memerinci satu demi satu secara lengkap semua hal yang terkandung dalam sebuah konsep. Misalnya: Propinsi di Indonesia meliputi, Jawa tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan seterusnya sampai propinsi yang terakhir.

Dalam membuat definisi nominalis perlu diperhatikan tiga sayarat sebagai berikut:
a.Tetap menjaga konsistensi apabila kata tertentu hanya mempunyai arti tertentu.
b. Menghidari penggunaan kata yang tidak diketahui artinya pada saat membuat definisi.
c. Definisi yang dibuat harus rasional sehingga dapat diterima oleh pihak lain.

2. Definisi realis
Definisi realis adalah, Penjelasan tentang isi yang dikandung oleh sebuah kosep. Definisi ini banyak digunakan dalam ilmu pengetahuan. Definisi ini dibedakan atas dua jenis yakni: definisi esensial dan definisi deskriptif.

a. Definisi esensial adalah: penjelasan sebuah konsep dengan cara menguraikan bagian-bagian yang membangun sebuah konsep. Definisi ini dapat dirinci menjadi dua jenis yakni: definisi analitis dan definisi konotatif.

Definisi analitis adalah penjelasan sebuah konsep dengan cara menunujukkan bagian-bagian yang mewujudkan esensinya. Misalnya: Manusia dapat didefinisikan sebagai substansi yang terdiri dari badan dan jiwa. Air adalah H20

Definisi konotatif adalah: penjelasan sebuah konsep dengan cara menunjukkan isi yang meliputi genus dan diferensia dari konsep dimaksud. Definisi ini disebut juga definis metafisik sebab memberikan jawaban yang mendasar dengan menunjukkan predikabel substansi sebuah konsep. Misalnya: Hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa.

Definisi esensial ini dapat dibuat dengan memperhatikan tiga hal: membandingkan hal yang hendak didefinisikan dengan hal lainnya. Menunjukkan jenis atau golongan yang memuat hal tersebut. Menunjukkan ciri-ciri yang membedakan hal tersebut dengan hal lainnya.

b. Definisi deskriptif
Definisi deskriptif adalah penejelasan sebuah konsep dengan cara menunjukkan sifat-sifat yang melekat pada konsep yang didefinisikan. Definisi ini dibedakan atas dua jenis yakni definisi aksidental dan definisi kausal.

Definisi aksidental adalah, penjelasan sebuah konsep dengan cara menunjukkan jenis dan sifat khusus yang terdapat dalam konsep yang didefinisikan. Atau dengan kata lain penjelasan konsep dengan mengacu pada genus dan propriumnya. Misalnya: manusia adalah makluk berpolitik, manusia adalah makluk sosial.

Definisi kausal disebut juga definisi genetik yaitu, penjelasan sebuah konsep dengan cara menyatakan bagaimana konsep tersebut terbentuk. Misalnya: awan adalah uap air yang terkumpul di udara dan terbentuk karena penyinaran laut oleh matahari; Mutad adalah orang yang berpindah dari satu agama ke agama lain.

3. Definisi praktis
Definisi praktis merupakan gabungan dari definisi nominalis dan definisi realis. Definisi praktis adalah  penjelasan suatu konsep ditinjau dari segi penggunaan dan tujuannya secara praktis. Definisi ini dibedakan atas tiga jenis yakni: definsi operasional, definisi persuasif dan definisi fungsional.

a. Definisi operasional adalah, penjelasan suatu konsep dengan cara menegaskan langkah-langkah khusus, prosedur pengukuran, serta menunjukkan bagaimana hasil yang dapat diamati. Definisi operasional dapat dikategorikan atas dua jenis yakni: Definisi kualitatif dan definsi kuantitatif. Definisi kualitatif adalah penjelasan suatu konsep berdasarkan isi yang dikandung dalam suatu konsep. Misalnya: Magnit adalah logam yang dapat menarik gugusan besi. Definisi kuantitatif adalah penjelasan konsep yang dibuat berdasarkan jumlah yang dikandung dalam suatu konsep. Misalnya: Prestasi belajar adalah 
skor yang diperoleh siswa melalui tes hasil belajar.

b. Definisi persuasif adalah, penjelasan tentang suatu konsep dengan cara merumuskan pernyataan tertentu untuk mempengaruhi orang lain. Misalnya: Lux adalah sabun para bintang film; tepat waktu adalah, ciri perilaku orang modern. Definisi persuasif banyak digunakan dalam dunia pariwara dan dunia politik, dengan maksud mempengaruhi konsumen maupun konstituen tertentu agar memilih produk atau partai politik tertentu.

c. Definisi fungsional adalah, penjelasan tentang suatu konsep berdasarkan kegunaan atau tujuannya. Misalnya: Bahasa adalah alat komunikasi manusia. 

Syarat-syarat definisi
Ada lima syarat umum yang perlu diperhatikan dalam merumuskan sebuah definisi yakni:

(1). Sebuah definsi harus menyatakan ciri-ciri hakiki dari apa yang didefinisikan, yakni menunjukkan pengertian umum (genus) yang meliputinya berserta ciri pembedanya (diferensia) yang penting. Syarat ini penting dalam kegiatan ilmiah seperti mendefinisikan hewan, tumbuh-tumbuhan. Misalnya: kuda adalah equus cabalus. Equus adalah genus (himpunan umum) dan cabalus adalah ciri yang membedakan kuda dari keledai, zebra dan lainnya dari genus yang sama.

(2). Sebuah definsi harus menggambarkan kesetaraan arti dengan hal yang didefinisikan. Artinya sebuah definisi tidak boleh terlalu luas atau terlalu sempit. Misalnya: (definisi yang terlalu luas) Meja adalah perabot rumah tangga. (Definisi yg terlalu terlalu sempit). Atau Kursi adalah tempat yang sedang diduduki.

(3). Sebuah definsi harus menghindarkan pernyataan yang memuat term yang sedang didefinisikan. Misalnya: keracunan adalah hasil akibat minum racun; pengetahuan adalah hal-hal yang diketahui dalam ingatan; hukum waris adalah hukum yang mengatur harta warisan.

(4). Sebuah definsi sedapat mungkin dinyatakan dalam rumusan yang positif.

(5). Sebuah definsi harus dinyatakan secara singkat dan jelas guna menghindari tejadinya kekaburan dan  
kedwiartian. Misalnya: Aluminium adalah, suatu jenis logam tertentu yang bercahaya. Contoh ini tidak telalu luas namun dengan mengatakan suatu jenis tertentu menunjukanm bahwa definsi tersebut belum menjelaskan apa-apa (masih kabur).

Catatan Penutup
Sebagai catatan penutup, saya ingin menegaskan bahwa materi ini, seperti juga topik sebelumnya tidak di maksudkan untuk dijadikan bahwa untuk menjustifikasi kadar berlogika seseorang. Yang hendak di wakili oleh posting ini adalah informasi edukatif yang kiranya dapat berguna bagi para sahabat. Hal ini perlu saya tegaskan karena saya tidak terlalu berminat pada opini-opini prejudice, saya lebih tertarik pada persoalan-persoalan yang lebih bersifat akademis.

Semoga bermanfaat
Salam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar