Jumat, 03 Juni 2011

Anyway (biar karmana ju......)

~~~~~~~~
oleh : Matheos V. Messakh
~~~~~~~~

Seorang teman, Wilson Therik, menulis di blognya sebuah puisi yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Melayu Kupang dengan judul “Biar Karmana ju” (Bagaimanapun).

Saya jadi ingat sebuah peristiwa ‘kebetulan’ yang menimpa saya beberapa saat sebelumnya. Beberapa saat sebelum saya melihat tulisan Wilson itu, saya membeli sebuah buku berjudul “Jesus did it Anyway-The Paradoxical Commandments for Christians” di Kinokuniya Senayan.

Saat saya membacanya saya teringat sebuah lagu yang diberikan oleh teman dan mantan guru saya Dr. John Campbell-Neslon sebagai hadiah perkawinan saya. Ternyata puisi yang diterjemahkan Wilson itu, buku itu dan lyric lagu itu berasal dari satu sumber: Kent M. Keith.

Kent M. Keith menulis “Paradoxical Commandments” ketika ia seorang mahasiswa Harvard berusia 19 tahun. Tulisannya itu merupakan bagian dari booklet yang ia tulis untuk para pemimpin siswa SMA dengan judul “The Silent Revolution: Dynamic Leadership in the Student Council”. Booklet itu pertama kali diterbitkan oleh Harvard Student Agencies pada tahun 1968. Antara tahun 1968 and 1972 terjual sekitar 30,000 copy.

Kent menjalani hidupnya setelah itu dan selama 25 tahun ia tidak tahu apa yang terjadi dengan The Paradoxical Commandments. Pada tahun 1997 barulah Kent tahu bahwa The Paradoxical Commandments telah diambil dari booklet kepemimpinan yang ia tulis dan digunakan oleh jutaan orang di mana-mana termasuk dituliskan di tembok, dimasukkan dalam pidato dan artikel, atau sekedar dibagikan kepada teman.



Tanpa sepengetahuan Kent, tenyata The Paradoxical Commandments telah digunakan dalam berbagai cara oleh orang Kristen di berbagai belahan dunia. Dikhotbahkan dari mimbar-mimbar, diterbitkan dalam newsletter gereja, atau diposting di website gereja. Digunakan oleh Abel Muzowera, seorang bishop Methodist yang merupakan perdana mentri Zimbabwe-Rhodesia.

Juga diterjemahkan dalam bahasa Jepang dan digunakan dalam homili-homili oleh seorang pastor Katholik Jepang di Tokyo. Muncul dalam majalah jemaat St. John di Wakefield, Inggris. Dimasukkan dalam sebuah manual tentang moralitas and etika untuk siswa yang diterbitkan oleh Konfrensi Bishop Katholik Canada, dan juga dimasukkan dalam sebuah kurikulum Study Alkitab untuk remaja dewasa yang diterbitkan oleh United Church of Christ. The Paradoxical Commandments juga diterbitkan dalam buku Dr. Robert H. Schuller ‘Turning Hurt into Halos’, buku Neil T. Anderson ‘Victory Over Darkness, dan buku John Hagee ‘The Seven Secrets.’

Saya kemudian baru sadar bahwa lagu yang saya dapatkan dari pak John Campbell-Nelson sebagai hadiah perkawinan saya mempunyai lyric yang persis seperti paradoxical commandments. Tentu saja dengan penambahan dan pengurangan, serta tekanan disana sini demi kepentingan notasi. Lagu itu dinyanyikan oleh duo The Roches, Suzzy dan Maggie Roche dalam album mereka ‘Zero Church’.

Ketika saya mencari lyricnya di internet tertulis di bagian akhirnya: Music by The Roches, Author unknown. Banyak orang ternyata tidak tahu dari mana asalnya tulisan ini. Mungkin karena tulisan ini telah digunakan sedemikian luasnya dan orang lupa siapa yang menuliskannya.

Bunyi lyric Anyway yang dinyanyikan The Roches adalah sbb:

People are often unreasonable, illogical,
and self-centered;
Forgive them anyway.

If you are kind, People may accuse you
of selfish, ulterior motives;
Be kind anyway.

If you are successful, you will win some
false friends and some true enemies;
Succeed anyway.

If you are honest and frank,
people may cheat you;
Be honest and frank anyway.

What you spend years building, someone
could destroy overnight;
Build anyway.

If you find serenity and happiness,
they may be jealous;
Be happy anyway.

The good you do today,
people will often forget tomorrow;
Do good anyway.

Give the world the best you have,
and it may never be enough;
Give the world the best you've got anyway.

You see, in the final analysis,
it is between you and God;
It was never between you and them anyway


Tulisan ini kemudian punya dampak balik yang luar biasa bagi penulisnya sendiri. Pada bulan September 1997, Kent mengetahui bahwa The Paradoxical Commandments dimasukkan dalam sebuah buku yang dikompilasi oleh Lucinda Vardey yang berjudul ‘Mother Teresa: A Simple Path.’ The Paradoxical Commandments ditaruh di halaman terakhir sebelum appendix dan diberi judul “Anyway” dan diketik berbentuk seperti puisi. Vardey menambahkan sebuah catatan diakhir halaman yang berbunyi: “From a sign on the wall of Shishu Bhavan, the children’s home in Calcutta.”

Kent menulis kesannya tentang penggunaan tulisannya oleh Ibu Theresa dalam pengantar bukunya “Jesus did it Anyway-The Paradoxical Commandments for Christians,” yang ia tulis kemudian di tahun 2005:

“I was deeply moved to learn that Mother Teresa thought that the Paradoxical Commandments were important enough to put up on the wall of her children’s home in India. That discovery was a turning point in my life. It seemed to me that God was sending me a message. I felt called to speak and write about the Paradoxical Commandments again after thirty years had passed.”

Membagikan The Paradoxical Commandments dan maknanya kemudian menjadi pelayanan sehari-hari Kent. Ia menerima undangan dari berbagai penjuru Amerika untuk mempresentasikan dan membawakan seminar tentang perintah-perintah itu. Ia juga menulis dua buah buku: “Anyway: The Paradoxical Commandments” dan “Do it Anyway: The Handbook for Finding Personal Meaning and Deep Happiness in a Crazy World.”

Sebagai hasil pembicaraannya di mana-mana dan tulisan-tulisannya, ia menerima kabar dari orang-orang diberbagai belahan dunia yang menceritakan kepadanya bagimana artinya The Paradoxical Commandments bagi mereka.

Kent menulis dalam “Jesus did it Anyway”:
“I often hear from Christians who tell me how they use the Paradoxical Commandments in their churches, families and individual lives. I am pleased to hear from all of them, and I am grateful that the Paradoxical Commandments are useful to them as they live their faith each day.”

Banyak juga yang memintanya untuk memberikan cerita-cerita dan ayat-ayat Alkitab yang mengilustrasikan The Paradoxical Commandments. Mereka tahu bahwa perintah-perintah ini didasarkan pada kebenaran-kebenaran Kristen, tetapi ingin tahu bagaimana perintah-perintah ini berhubungan dengan iman Kristen dan bagaimana perintah-perintah ini berkaitan dengan Alkitab. Secara khusus Kent diminta untuk menjelasakan bagaimana perintah-perintah ini berkaitan dengan ajaran Yesus.

Buku “Jesus did it Anyway-The Paradoxical Commandments for Christians” ditulis sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu. Di dalamnya terdapat uraian yang lebih rinci dengan menggunakan ayat-ayat dan bagian Alkitab. Satu persatu kalimat The Paradoxical Commandments (seperti tertera dibawah ini) dibahas dalam buku ini:


People are illogical, unreasonable, and self-centered. Love them anyway.
If you do good, people will accuse you of selfish ulterior motives. Do good anyway.
If you are successful, you will win false friends and true enemies. Succeed anyway.
The good you do today will be forgotten tomorrow. Do good anyway.
Honesty and frankness make you vulnerable. Be honest and frank anyway.
The biggest men and women with the biggest ideas can be shot down by the smallest men and women with the smallest minds. Think big anyway.
People favor underdogs, but follow only top dogs. Fight for a few underdogs anyway.
What you spend years building may be destroyed overnight. Build anyway.
People really need help but may attack you if you do help them. Help people anyway.

Give the world the best you have and you’ll get kicked in the teeth. Give the world the best you have anyway.

Apa yang dituliskan Kent dalam usia yang sangat muda, 19 tahun, ternyata punya dampak yang luar biasa bagi banyak orang. Mungkin karena ia menuliskannya dalam masa idealisme yang luar biasa, dalam kejujuran dan kepolosan yang luar biasa, dalam integritas diri yang luar biasa, dalam masa pencarian makna hidup yang awal dan murni.

Kadang kita juga begitu bukan? Coba lihatlah karya-karya kita di usia 17, 18, 19-25 tahun, anda akan terkesima dengan karya anda sendiri. Mungkin memang ada bagian-bagian yang terasa naïve dan sederhana, tetapi ada juga yang membuat kita berpikir: “kok bisa ya saya berpikir (atau berbuat) sejauh itu? Sekarang mungkin saya belum tentu mampu melakukannya.”

Kalau anda pernah berkuliah di perguruan tinggi, coba ambil saja skripsi anda dan lihat kembali. Anda pasti akan mempunyai perasaan yang sama, jika memang skripsi itu anda kerjakan dengan jujur dan penuh idealism. Lain halnya kalau anda cuma ngopy skripsi orang lalu dirubah-rubah sedikit, seperti yang dilakukan kebanyakan mahasiswa kita.

Sekarang saya bertanya pada diri saya sendiri: mungkinkan semua ini hanya kebetulan? Mungkinkah pak John memberi hadiah kepada saya adalah sebuah kebetulan? Kebetulankah saya membeli buku di Kinokuniya? Apakah kebetulan Wilson menulis di blog-nya dan kebetulan saya melihatnya?

Johann von Schiller pernah menulis: “Tidak ada yang namanya kebetulan. Apa yang tampak oleh kita sebagai sekedar kebetulan sebenarnya muncul dari sumber takdir yang terdalam.” Karena saya yakin semua ini bukan kebetulan, saya berusaha menuliskan tulisan ini dan membagikannya kepada saudara.

Squire Rushnell menulis dalam bukunya: ‘When God Winks: How the Power of Coincidence Guides Your Life’ bahwa suatu kebetulan bukanlah sekedar kebetulan, namun memiliki arti yang lebih dalam.

Jangan-jangan Tuhan memang sedang main mata dengan saya, memberi tanda, isyarat atau mengungkapkan suatu pesan. Mungkin saya saja yang tidak mengerti isyarat itu.


30 April 2010


tulisan ini bisa juga dilihat di link ini:  http://matheosmessakh.blogspot.com/search?q=Anyway
[nantikan edisi berikut ttg Bagaimana Jon Bon Jovi menemukan Leonard Cohen, atau bagaimana Bono mengajak Mary J Blige menyanyikan lagu "ONe"]

Tak kutahu kan hari esok

 ~~~~~~~
Oleh : Matheos V. Messakh
~~~~~~~
Ini cerita tentang sebuah lagu di akhir kebaktian minggu.
siapa pernah sangka, burung inipun Allah pelihara....?

Minggu lalu saya terlambat ke gereja. Khotbah hampir  berakhir  ketika saya mulai masuk aula basketball di sebuah sekolah Kristen di BSD di mana kami menggunakannya sebagai  tempat ibadah. Tentu saja saya tidak tahu lagi dari mana dan kemana thema khotbah hari itu. Liturgi  kebaktianpun tidak saya pegang jadi saya hanya mengikuti saja apa yang dilakukan orang lain. [mungkin anda ingat salah satu film Mr. Bean, tapi saya tidak seusil comedian itu]. 


Namun ada satu lagu di akhir kebaktian yang mengusik saya. Saya familiar dengan solmisasinya namun tidak menghafal liriknya. Bisa ditebak, saya pasti hanya lancar menyanyikan pada bagian reffreinnya, seperti Mr. Bean. Sehabis kebaktian saya mencari liturgi yang ditinggalkan jemaat lain di kursi-kursi untuk melihat lagu itu. Tenyata Nyanyian Kidung Baru No. 49 “Tuhan Yang Pegang”.


Saya terus menyanyikan lagu itu sepanjang jalan ke rumah dan hampir sepanjang hari minggu itu. Di status facebook saya pun saya tuliskan beberapa penggal syair lagu itu. Sesampai di rumah saya membuka buku Nyanyian Kidung Baru dan mencari tahu isinya. Di buku nyanyian itu tertulis bahwa lirik dan syair asli lagu itu di tulis oleh Ira F. Stanphill (1914- ) dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh K.P. Nugroho (1928-1994). Perhatikan bahwa NKB sengaja mengosongkan tahun kematian Stanphill, mungkin penerbitnya bahkan tidak tahu apakah Stanphill masih hidup atau sudah meninggal.


Browsing di internet menunjukkan bahwa lagu itu pernah dinyanyikan oleh beberapa penyanyi modern seperti Leann Rimes, Alison Krauss, dan Kelly Price. Dari pencarian di internet saya kemudian tahu bahwa lagu yang sama juga ada dalam Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) 241 namun diberi judul “Tak Kutahu kan Hari esok”.


Tapi siapakah Ira F. Stanphill?

Di Wikipedia disebutkan bahwa Ira Forest Stanphill (14 February 1914-30 December 1993) adalah seorang penulis lagu American gospel  terkenal . Sumber lain menyebutkan ia telah menulis lebih dari 600 lagu dan 400 diantaranya telah diterbitkan dalam buku-buku nyanyian.


Ia lahir di Belleview, New Mexico. Pada usia 10 tahun, Stanphill sudah menjadi musisi berpengaruh yang mahir memainkan piano, organ, ukulele dan accordion. Pada usia 17 tahun ia telah menuliskan lagu-lagunya sendiri dan mementaskannya untuk pelayanan gereja, kebangunan-kebangunan rohani  dan pertemuan-pertemuan doa.

Stanphill mengenyam pendidikan di Junior College di Chillocothe, Missouri dan kemudian ia menerima PhD honorary dari Hyles-Anderson College di Hammond, Indiana.


Sebagai penyanyi  lagu-lagu evangelis, Stanphill banyak melakukan perjalanan di  US dan Canada dan telah mengelilingi lebih dari 40 negara di dunia sepanjang karirnya untuk mengajar dan mementaskan musiknya. Banyak penyanyi  terkenal menyanyikan lagu-lagunya yang kemudian mendapat pujian dan tetap terkenal sampai saat ini seperti Elvis Presley yang menyanyikan “Mansion Over the Hilltop” dan Johnny Cash yang menyanyikan “Suppertime”. Lagu-lagu lainnya yang tetap dikenal sampai saat ini dan masih tetap dinyanyikan antara lain: "I Know Who Holds Tomorrow", "I Walk with His Hand in Mine", and "We'll Talk It Over".


Stanphill meninggal kurang dari dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke 80 di Overland Park, Kansas dan dimakamkan di County Memorial Gardens, Johnson County, Kansas.


Syair asli dari lagu “I know Who Holds Tomorrow” ternyata sangatlah menyentuh. Ternjemahannya juga bagus, namun mungkin karena persoalan tehnis solmisasi syairnya tidak bisa diterjemahkan secara lurus saja tanpa improvisasi.

Berikut ini adalah terjemahan saya atas lagu ini. Saya berusaha menerjemahkan agak bebas tetapi tidak sebebas yang diterjemahkan dengan memikirkan teknis solmisasi.


Tak ku tahu kan hari esok
Aku hanya hidup dari hari ke hari
[tapi] aku tak pernah meminjam dari sinar mentari
Karena langitnya bisa saja menjadi gelap.
Tak ku kuatir akan masa depan
Karena kutahu yang Yesus katakan
Dan hari ini aku akan berjalan bersamaNya
Karena Ia tahu yang terbentang di depan


Banyak hal tentang hari esok
yang tak kutahu
Tapi kutahu siapa yang memegang hari esok
Dan kutahu siapa yang memegang tanganku


Setiap langkahku menjadi lebih terang
Ke tangga keemasan aku melangkah
Setiap beban menjadi ringan
Setiap mendung menjadi berkilauan.
Di sanalah matahari selalu bersinar,
Takkan ada tangis di mataku;
Di sanalah di ujung pelangi
Di mana gunung-gunung menyentuh langit
Tak kutahu kan hari esok
Mungkin ku kan ditimpa kekurangan.
Tapi Ia yang memberi makan burung pipit
Ia jualah yang berdiri di sampingku.
Tapak-tapak yang menjadi bagianku
Mungkin saja melewati api dan banjir
Tapi Ia ada di sana sebelum aku
Dan kudiselimuti oleh darahNya…



Dan inilah syair aslinya:
I don't know about tomorrow;
I just live from day to day.
I don't borrow from its sunshine
For its skies may turn to grey.
I don't worry o'er the future,
For I know what Jesus said.
And today I'll walk beside Him,
For He knows what lies ahead.




Many things about tomorrow
I don't seem to understand
But I know who holds tomorrow
And I know who holds my hand.


Every step is getting brighter
As the golden stairs I climb;
Every burden's getting lighter,
Every cloud is silver-lined.
There the sun is always shining,
There no tear will dim the eye;
At the ending of the rainbow
Where the mountains touch the sky.



I don't know about tomorrow;
It may bring me poverty.
But the one who feeds the sparrow,
Is the one who stands by me.
And the path that is my portion
May be through the flame or flood;
But His presence goes before me
And I'm covered with His blood.


Serpong, BSD, 9 Maret 2011

Kamis, 02 Juni 2011

PELEMBAGAAN GEREJA: menjadi gereja yang sadar diri

oleh : Lia Wth
~~~~~~~~~
*diambil dari Group Komunitas Aer Itam di FB (20 Mei 2011) 
~~~~~~~~~


"Birokrasi gereja yang berlebihan, perebutan kedudukan organisasional gereja yang tidak sehat, dan penggunaan lembaga gereja untuk kepentingan segelintir orang entah itu politik, ekonomi atau budaya dapat dihindari bila gereja menata lembaganya sesuai dengan tujuan keberadaannya.."
Gereja adalah kata dengan banyak makna. Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa kata gereja merujuk pada bangunan atau rumah sebagai tempat berdoa bagi agama kristen. Pembagian yang lain memahami gereja dengan dari dua sisi yaitu organisme dan organisasi. Organisme gereja menjelaskan sisi keterlibatan aktif anggotanya sementara organisasi menunjukan sisi kelembagaan gereja (Yewangoe, Tak Ada Penumpang Gelap, 2009). Beragam makna kata gereja ini sekaligus menunjukkan kompleksitas kehidupan begereja. Gereja dapat dimaknai sebagai gedung kebaktian, individu atau institusi.

                Institusi atau pelembagaan gereja adalah salah satu dimensi gereja yang seringkali dilihat sebagai “batu sandungan” bagi pelayanan. Rumitnya birokrasi dalam gereja dan perebutan jabatan organisasional gereja yang tidak sehat seringkali digunakan sebagai contoh yang membuktikan bahwa pelembagaan gereja dapat menjadi “batu sandungan” bagi pelayanan gereja sendiri. Namun pembuktian ini tidak berarti pelembagaan gereja dapat begitu saja dihapuskan sebab pelembagaan gereja adalah proses yang tidak terhindarkan.


Hadir karena Kebutuhan: 

Pdt Dr. Lazarus H. Purwanto menjelaskan bahwa pelembagaan gereja bukanlah sebuah gejala moderenitas tetapi telah ada sejak jemaat mula-mula (Purwanto, Tiga Sistem Penataan Gereja, Bahan Ajar Hukum Gereja, 2008). Kepergian rasul-rasul berakibat pada hilangnya figur pemimpin dalam jemaat mula-mula. Pada saat yang sama banyak bidat-bidat sedang berusaha untuk memengaruhi ajaran dari jemaat mula-mula. Dalam keadaan seperti ini, adanya ajaran yang sistematis merupakan kebutuhan yang tidak terhindarkan. Sayangnya pada masa ini Kanon Perjanjan Baru belum terbentuk.

                Kebutuhan akan adanya ajaran yang sistematis ini, sejalan dengan semakin bertambahnya anggota jemaat dalam jemaat mula-mula. Konsekuensi dari bertambahnya jemaat adalah semakin kompleksnya pelayaan. Faktor-fakor kesinambungan ajaran dan kompleksnya pelayanan membutuhkan penataan pelayanan yang sistematis. Dengan demikian pelembagaan gereja menjadi proses yang tidak terhindarkan sebab dengan pelembagaan gereja, sistematisasi ajaran dan pelayanan dapat berjalan.


Mengarahkan Gereja kepada Misi:

Rob van Kessel, seorang tokoh Pembangunan Jemaat, menegaskan bahwa pengalaman-pengalaman bersama dalam bergereja harus distrukturkan dalam sebuah institusi yang nyata. Bila Proses ini diabaikan maka nilai-nilai kristiani dari pengalaman-pengalaman tersebut pun akan hilang (Kessel, 6 Tempaian  air, 1997).

                Gereja hadir di dunia untuk melaksanakan tujuan keselamatan Allah Trinitas, dengan kata lain gereja hadir untuk melaksanakan misi Allah Trinitas. Sistematisasi ajaran dan pelayanan adalah bagian dari usaha gereja untuk meneruskan dan mewujudnyatakan karya keselamatan Allah Trinitas. Tanpa sistematisasi kisah keselamatan Allah Trinitas, anggota gereja tidak akan dapat memahami ajaran gereja dengan utuh. Demikian juga dengan pelayanan, tanpa sistematisasi pelayanan maka program gereja akan berjalan tumpang tindih dan tidak meyentuh kebutuhan jemaat. Pelembagaan memampukan gereja untuk menjalankan misinya yaitu mewujudnyatakan karya keselamatan Allah Trinitas melalui sistematisasi ajaran dan pelayanan yang nyata.



Menjadi Gereja yang Sadar Diri:

Pendapat Hans Kϋng, seorang teolog menegaskan bahwa proses pelembagaan gereja tidak akan bertentangan dengan hakikat gereja sejauh pelembagaan tersebut dibangun di atas hakikat gereja. Penegasan ini sekaligus mengajak gereja untuk menjadi lembaga yang sadar diri. Memahami tujuan kelembagaannya sehingga mampu menata diri sesuai dengan hakikat dirinya.

Pelembagaan gereja tidak akan menjadi “batu sandungan” bagi pelayanan bila dilaksanakan sesuai dengan hakikatnya sebagai alat untuk melaksanakan misi Allah Trinitas. Birokrasi gereja yang berlebihan, perebutan kedudukan organisasional gereja yang tidak sehat, dan penggunaan lembaga gereja untuk kepentingan segelintir orang entah itu politik, ekonomi atau budaya dapat dihindari bila gereja menata lembaganya sesuai dengan tujuan keberadaannya. Menjadi gereja yang  sadar diri adalah panggilan bagi kita semua, baik sebagai individu (organisme) yang merupakan anggota gereja maupun gereja secara lembaga (organisasi) sehingga gereja tidak hanya menjadi “bangunan megah” tanpa makna bagi lingkungan sekitarnya.